31
Ja
Penjelasan Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
31.01.2017 05:49


Dari segi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan itu. Ada yang mengatakan jika aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada pula yang mengeluarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang ada pada oknum si bayi ketika ia keluar atas rahim ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 sudut untuk bocah laki-laki serta 1 ekor untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak bocah tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan bayi perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya di hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bersabda: “Aqiqah dilaksanakan karena kemunculan bayi, oleh sebab itu sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, atas kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, sira memberi pamor dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak perkara 4, hal. 264]

Bukti: Hasan & Husain adalah cucu Rasulullah SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Hasan, dia mengatakan: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang2 miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih di dalam hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Pedoman Aqiqah Budak adalah sunnah (muakkad) cocok pendapat Imam Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah adalah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya telau (Maksudnya potong rambut rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Titik lidah: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun bukan bersifat wajib, karena tersedia sabdanya yang memalingkan atas kewajiban yakni: “Barangsiapa diantara kalian terselip yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Duli Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Tuan berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh di dalam aqiqah tersebut hewan yang picak, renyah, patah tulang, dan pedih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam satwa aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami dalam masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumuri kepalanya dengan darah wedus itu. Oleh sebab itu setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, menyikat (menggundul) oknum si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud juz 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka menconteng kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur rambut si bocah mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW bersabda, “Gantilah kebiasaan itu beserta minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Pelerai demam Balban juz 12, sesuatu. 124]

Kegiatan aqiqah pikir kesepakatan karet ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW bersabda, “Seorang keturunan terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak pula, maka saat hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) kepada dasar permintaan, maka takut-takut menyembelih di hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah pas. Karena pijakan ajaran Islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini menurut sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan kalau tidak sanggup melaksanakannya dalam hari ketujuh, maka mampu dilaksanakan saat hari di empat belas, dan jika tidak sanggup, maka di dalam hari di dua persepuluhan satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah atas ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih di hari ketujuh, ke empat belas, & ke dua puluh tunggal. ” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih gak mampu jadi kapan pula pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, sebab pelaksanaan di dalam hari-hari di tujuh, ke empat belas kasihan dan ke dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. & boleh pun melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Momongan yang musnah dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun balita yang miskram[cak] dengan tumpuan sudah berusia empat hari di dalam perut ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si bayi. Namun kalau seseorang yang belum dalam sembelihkan satwa aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia siap menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal ini tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, dipastikan pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa pun, maka saat hari ke-2 puluh wahid. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi tanggungan ayah.

Akan tetapi demikian, bila ternyata pada kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri di saat dewasa. Satu pada al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyangkal, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi begitu kecil, maka lebih cantik melakukannya seorang diri saat dewasa. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menilai demikian. Pikir mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang2 tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Jumlah Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal adalah satu upaya baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain mono domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Kita harus sadar bahwa Hasan dan Husain adalah bani kembar. Oleh karena itu pada tunggal kelahiran tersebut disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih tertinggi adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 kontrol untuk keturunan perempuan berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor kambing dan daripada anak perempuan satu kontrol. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor kambing yang selevel dan atas anak perempuan satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang keturunan

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama & mencukur serat (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir dalam hari Mono-, ‘aqiqahnya rontok pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang untuk anak cewek 1 upaya.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan menurut orang tua si anak, tapi boleh pun dilakukan sama keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah ini hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Baik Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kibas untuk bani dan tunggal ekor kibas untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah dikasih kepada tetangga dan gelandangan miskin pula bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Malahan jika hal itu dimaksudkan untuk mempesona simpatinya serta dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi makan orang melarat, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada tatkala itu merupakan orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga juga boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa memperlakukan apakah nyali besar atau putri, sebagaimana babad di lembah ini:

Daripada Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia sempat bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka ceramah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak dara satu sudut kambing. Tidak menyusahkanmu cantik kambing itu jantan maupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan aku belum meraih dalil lainnya yang menunjukkan adanya satwa selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 dari kelahiran bani tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Mengenai dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, dan mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat dan tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan piawai mengundang teman2 dan nenek untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Putra Bazz berkata: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya & memasaknya lantas mengundang orang2 yang kamu lihat pantas diundang dari kalangan moyang, tetangga, teman2 seiman dan sebagian manusia faqir untuk menyantapnya, serta hal sedarah dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi kalau ada signifikansi antara definisi sebuah sebutan dengan yang diberi seri. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal tersebut.

Dari Duli Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang terkandung dalam sebutan berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama itu diambil mulai makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Putri Al-Musayyib mengatakan: “Orang ini senantiasa sok keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang elok untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang elok yang menarik diberikan merupakan nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Daripada Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan klik:

Memberi Identitas Bayi alias Anak Berdasar pada Islami


Menyikat Rambut

Memotong rambut ialah anjuran Rasul yang amat baik untuk dilaksanakan tatkala anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpenjara dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi sebutan, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Hasan dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat sabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan secara rata; gak boleh seharga mencukur sekitar kepala serta sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar pun sedekahnya.

Ciri Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan identitas Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) mulai Muhammad dan keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk keturunan ini dengan kalimat Tuhan Yang Simpan dari sekalian gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat menuntun akibat jorok bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs punya beberapa panduan diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di aqiqah itu mengandung unsur perlindungan daripada syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan ini sesuai dengan makna hadits, yang mempunyai: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Oleh karena itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terjamin dari gangguan syaithan yang sering mengganggu anak-anak. Hal inilah yang dimaksud per Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sambil aqiqahnya”.

3. domba aqiqah bandung Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak saat hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mengecap syukur bagi karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa ribut dalam mengusahakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan masih banyak sedang hikmah yang terkandung di pelaksanaan Syariat Aqiqah tersebut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!